Rabu , September 18 2019
Home / Sabung Ayam / Sejarah Sabung Ayam Di Indonesia
Sejarah Sabung Ayam Di Indonesia

Sejarah Sabung Ayam Di Indonesia

Sejarah Sabung Ayam di Indonesia

Adu Ayam Jago atau biasa disebut sabung ayam merupakan permainan yang telah dilakukan masyarakat di Indonesia sejak dahulu kala. Permainan ini merupakan perkelahian ayam jago yang memiliki taji dan terkadang taji ayam jago ditambahkan serta terbuat dari logam yang runcing.

Permainan Sabung Ayam di Indonesia ternyata tidak hanya sebuah permainan hiburan semata bagi masyarakat, tetapi merupakan sebuah cerita kehidupan baik sosial, budaya maupun politik.

Seperti di Pulau Jawa, Permainan Sabung Ayam berasal dari cerita rakyat Cindelaras yang memiliki ayam sakti dan diundang oleh raja Jenggala, Raden Putra untuk mengadu ayam. Ayam Cindelaras diadu dengan ayam Raden Putra dengan satu syarat, jika ayam Cindelaras kalah maka ia bersedia kepalanya dipancung, tetapi jika ayamnya menang maka setengah kekayaan Raden Putra menjadi milik Cindelaras.

Dua ekor ayam itu bertarung dengan gagah berani. Tetapi dalam waktu singkat, ayam Cindelaras berhasil menaklukkan ayam sang Raja. Para penonton bersorak sorai mengelu-elukan Cindelaras dan ayamnya. Akhirnya raja mengakui kehebatan ayam Cindelaras dan mengetahui bahwa Cindelaras tak lain adalah putranya sendiri yang lahir dari permaisurinya yang terbuang akibat iri dengki sang selir.

Sedangkan di bali permainan sabung ayam disebut tajen. Tajen berasal-usul dari tabuh rah, salah satu upacara dalam masyarakat hindu di bali. Tujuannya mulia, yakni mengharmoniskan hubungan manusia dengan bhuana agung. Upacara ini runtutan dari upacara yang sarananya menggunakan binatang kurban, seperti ayam, babi, itik, kerbau, dan berbagai jenis hewan peliharaan lain.

Persembahan tersebut dilakukan dengan cara nyambleh (leher kurban dipotong setelah dimanterai). Sebelumnya pun dilakukan ngider dan perang sata dengan perlengkapan kemiri, telur, dan kelapa. Perang sata adalah pertarungan ayam dalam rangkaian kurban suci yang dilaksanakan tiga partai (telung perahatan), yang melambangkan penciptaan, pemeliharaan, dan pemusnahan dunia. Perang sata merupakan simbol perjuangan hidup.

Lain lagi di Bugis, menurut M Farid W Makkulau, Manu’(Bugis) atau Jangang (Makassar) yang berarti ayam, merupakan kata yang sangat lekat dalam kehidupan masyarakat Bugis Makassar. Gilbert Hamonic menyebutkan bahwa kultur bugis kental dengan mitologi ayam. Hingga Raja Gowa XVI, I Mallombasi Daeng Mattawang Sultan Hasanuddin, digelari “Haaantjes van het Oosten” yang berarti “Ayam Jantan dari Timur.

Tokoh Sawerigading yang merupakan tokoh utama dalam epic mitik menyukai sabung ayam, hal ini telah diceritakan dalam kitab La Galigo. Dalam kitab itu juga di ceraitakan bahwa orang zaman dahulu dikatakan belum pemberani jika belum memiliki kebiasaan judi, minum arak, dan adu ayam atau taruhan sabung ayam. Sehingga seseorang harus membuktikan ketiga hal itu jika ingin dikatakan pemberani.

Demikianlah sekilas tentang sejarah asal-usul tradisi sabung ayam di Indonesia yang sudah berabad-abad dan hingga kini masih banyak dilakukan oleh masyarakat meskipun telah dilarang oleh pemerintah karena sekarang ini telah banyak dijadikan sebagai media perjudian.

About Lusiana Liu

Saya adalah seorang penulis artikel yang sangat menggemari permainan taruhan.

Check Also

Cara Latih Kekuatan Ayam Aduan Bangkok Di Arena Sabung Ayam

Cara Latih Kekuatan Ayam Aduan Bangkok Di Arena Sabung Ayam

Melatih Kekuatan Ayam Aduan Arena Sabung Ayam Ayam aduan yang bagus adalah ayam yang memiliki …